Konflik akan selalu mewarnai semua pengalaman manusia. Ia dapat terjadi bahkan dalam diri seseorang, yang disebut dangan konflik intraparsonal (intraparsonal conflict). Lebih-lebih, konflik dapat terjadi di dalam (within) banyak orang atau satuan sosial; hal itu dapat berupa intra-personal atau lntrakelompok (atau intranasional). Konflik dapat pula dialami antara (between) dua atau lebih orang atau satuan sosial; yang demikian inidisebut interpersonal, Intergroup, atau International conflict. (Owens, 1987: 244).
Jika dua orang berkumpul, maka siap-siaplah akan tejadi pertentangan baik disimpan di dalam hati maupun ditampakkan dengan perilaku. Sudah menjadi kodrat manusia bahwa bila mereka berdekatan, pasti terjadi gesekan perasaan karena suasana hati manusia itu secara garis besar berkisar antara rasa senang, sedih, marah, dan takut (cemas). Komunikator yang handal dapat mengetahui suasana hati manusia dari penampilan wajahnya. Konflik tidak selamanya negatif, ada pla konflik yang menyebabkan positif, misalnya berkonflik karena persaingan secara sehat.
Manager dan leader pendidikan dalam menjalankan tugasnya pasti berhadapan dengan konflik. Untuk itu perlu dibekali bagaimana cara-cara mengatasi konflik.
Secara konflik berupa proses kegiatan A merugikan B sehingga menimbulkan perselisihan sehingga dapat menimbulkan stres (Gibson, et.al, 2003). Konflik disebut juga fight, strungle, quarrel, defference, opposition, .and disagrement. Konflik yang berkepanjangan dapat mengakibatkan stres bagi yang berkonflik. Konflik dapat terjadi dengan: (1) diri sendiri, (2) seseorang, (3) kelompok, (4) organisasi, (5) kelompok dengan kelompok, (6) kelompok dengan organisasi, dan (7) organisasi dengan oganisasi.
1. Sumber Konflik
Konflik merebak dan beragam sumber. Studi kasus Coleman (Campbell et al., 1983: 187) menjelaskan bahwa konflik masyarakat berakar dan isu-isu yang terkait dangan ekonomi, kekuasaan atau otoritas, nilai kultural atau keyakinan, atau sikap pertentangan terhadap orang atau kelompok. Sumber potensial konflik lain adalah hubungan antara kelompok-kelompok.
Secara lebih luas, dapat dikemukakan bahwa munculnya sebuah konflik dapat bersumber dari (a) Masalah komunikasi (salah pengertian, ketertutupan, penyampaian yang kasar, dan sebagainya); (b) Disain struktur (tempat basah dan tempat kering); dan (c) Perbedaan personal (perbedaan latar belakang budaya, pendidikan, pengalaman, usia, dan lain-lain). (Hunsaker, 2003)
2. Pengaruh Konflik Organisasi
Konflik yang sering dan kuat dapat memberi dampak terhadap prilaku anggota organisasi. Penarikan diri secara psikologis sering terkait dangan konflik seperti alieniasi, apatis, dan indeferensi merupakan gejala umum yang sangat mempengaruhi fungsionalisasi organisasi. Penarikan diri secara fisik seperti absen, terlambat, dan mundur merupakan respon luas terhadap konflik di sekolah yang sening ditimpakan kepada pihak guru.
Di sisi lain, konflik menyebabkan orang berusaha untuk mencari cara efektif yang terkait dangannya, yang terjadi dalam fungsionalisasi organisasi, ini misalnya: kohesivitas, hubungan yang jelas, prosedur pemecahan-masalah yang jelas. Bahkan, Deutsch (1973) menjelaskan bahwa konflik di dalam suatu kelompok sering membantu untuk menghidupkan norma-norma; atau hal itu dapat menyumbang kepada munculnya norma-norma baru. Dalam hal ini, konflik sosial dapat dijadikan mekanisme bagi penyesuaian norma terhadap kondisi-kondisi baru. Masyarakat yang fleksibel akan mendapatkan keuntungan dari konflik karena prilaku konflik, dangan membantu menciptakan dan merubah norma, akan menjamin kelangsungannya di bawah kondisi yang berubah. Secara keseluruhan, dapat dikemukakan bahwa konflik dapat menjadi negatif atau negatif bagi getiap organisasi.
3. Metode Pemecahan Konflik
Mengatasi konflik seharusnya dilakukan dengan cara yang tepat dan sistematik. Hunsaker (2003) menawarkan tiga langkah penting dalam mengatasi konflik, yaitu: (a) Mempelajari penyebab utama konflik; (b) Memutuskan untuk mengatasi konflik; dan (c) Memilih strategi mengatasi konflik

Tidak ada komentar:
Posting Komentar